
| The Success Principles – Jack Canfield Saya sudah lama diberitahu akan buku bagus ini, tapi selalu ada penolakan dalam diri saya untuk membeli dan membacanya. Satu-satunya alasan adalah tebalnya 654 halaman! Alasan yang sepertinya logis dan saya yakin anda juga setuju.Jack Canfield adalah co-author Chicken Soup for the Souls yang best sellers di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Saya semula agak ‘berat-hati’ mulai membaca buku ini, tapi begitu saya selesai membaca Prinsip 1 – Bertanggung Jawab 100% atas Kehidupan Anda, saya langsung terpesona. Gaya bahasanya sangat enak, runtut dan jelas serta ringan. Sangat mudah dipahami ( meskipun sangat paradoks kalau melihat tebal bukunya). Pada bab ini, Jack menuliskan pengalaman pribadinya bekerja untuk Clement Stone, seorang jutawan pada tahun 1969, yang bertanya pada Jack,” Apakah kamu pernah menyalahkan orang lain atas kejadian apapun dalam hidupmu? Apakah kamu pernah mengeluh tentang sesuatu?” Ketika Jack terpaksa harus menjawab pernah, Clement Stone langsung melanjutkan,”Itu berarti kamu tidak bertanggung jawab 100% atas kehidupan kamu. Bertanggung jawab seratus persen berarti kamu mengakui bahwa kamu menciptakan semua yang terjadi pada dirimu. .....Jika kamu ingin sukses maka berhentilah menyalahkan orang lain dan mengeluh...” Jack juga mengungkapkan rumus suskes E+R = O (Event + Response = Outcome). Jika terjadi sesuatu pada diri anda, maka bagaimana anda meresponnya akan menghasilkan sesuatu, bisa baik bisa buruk. Peranan kita mersepon sesuatu kemudian menjadi sangat penting. Karena seringkali kita tidak bisa menolak sebuah peristiwa yang datang pada kita. Jika belum membaca buku ini, segeralah ke toko buku. Kearifan Timur oleh Jusuf Sutanto Ini adalah buku baru terbitan Penerbit Buku Kompas Juli 2007 lalu. Bersampul merah dengan huruf Kanji, sekilas buku ini sepertinya akan mengulas Kearifan Timur dari sudut pandang Tionghoa semata, tapi buku ini ternyata juga mengulas beberapa kearifan lain seperti India dan membandingkannya dengan kearifan Barat yang menurut Jusuf tidak perlu dipertentangkan, namun akan saling melengkapi karena memang cara memandangnya cukup berbeda. Jusuf memberi contoh kedokteran Barat akan menelaah tubuh kita per bagian tubuh secara sangat spesialis, apakah itu otak, jantung, paru-paru kita. Tapi kedokteran Timur akan cenderung menelaah secara holistik berdasarkan titik-titik tertentu dalam tubuh yang saling bertautan satu sama lain. Tapi dalam beberapa hal kearifan Timur dan Barat juga sama seperti contohnya jika seseorang baru belajar silat selama 2 tahun dia akan merasa sangat jago dan ingin mempertontonkan kehebatannya. Tapi sesudah belajar silat selama 20 tahun, orang itu akan menyadari betapa ilmu yang dimilikinya masih sangat terbatas. Socrates mengatakan dengan sangat indah “Puncak ilmu pengetahuan adalah bukan saya tahu bahwa saya tahu, tetapi saya tahu bahwa saya tidak tahu.” Sejujurnya saya menjadi sangat tertarik mempelajari huruf Kanji. Jusuf membawa saya pada sebuah contoh yang sangat menarik, bagaimana kata pintar dalam huruf Kanji dibuat, yaitu gabungan antara 4 suku kata dan 2 suku kata. 4 suku kata pertama yang digabungkan adalah kata-kata kuping, mata, mulut dan hati. 2 suku kata yang digabungkan berikutnya adalah matahari dan bulan. Jadi secara harafiah pintar sama dengan kuping+mata+mulut+hati dan matahari+bulan atau dibaca secara lebih dalam pintar sama dengan mendengar dan melihat serta memasukkan dalam hati siang dan malam. Mempesona sekali. Kalau anda keranjingan membaca buku The Secret-nya Rhonda Byrne yang mengatakan alam semesta dan kita saling terkait satu sama lain dengan ”The Law of Attraction” maka Seng Cao pada tahun tahun 384-414 mengatakan ”Langit, bumi dan aku berasal dari akar yang sama; ribuan makhluk di dunia dan aku terbuat dari bahan yang satu.....” Dalam skala yang berbeda kearifan India (Hindu) mengatakan ”Alam semesta adalah Tuhan yang sedang bermain petak umpet dengan dirinya sendiri... Sang Tunggal lenyap menjadi Jamak, lalu Jamak kembali ke asalnya menjadi Tunggal.” (halaman 95). Di kelas saya sangat suka mendiskusikan kearifan lokal kita yaitu Budaya Untung. Mungkin anda pernah mendengar seseorang yang tertimpa kemalangan akan mengatakan ”Untung masih ada.....” Banyak sekali pemikir Barat yang mengatakan agar kita fokus pada positive thinking dan belakangan juga positive feeling dan berani hanya berfokus pada hal itu. Kearifan untung adalah kearifan khas kita, yang melihat sesuatu dari kacamata berbeda yaitu memfokuskan diri pada sisi baik dari sebuah kejadian. Banyak kearifan lokal yang sering kita abaikan dan kita ganti dengan kearifan internasional yang memang dikemas lebih menarik dan populer lengkap dengan berbagai macam buku, film, asesoris serta seminar- seminar yang menyertainya. Kearifan lokal Indonesia juga sangat kaya dan sering kita lupakan.... Ingin melanjutkan sinopsis berikutnya? |

