| Mestakung oleh Prof. Yohanes Surya, Phd. Buku ini mengisahkan perjuangan tim fisika Indonesia memulai debutnya di panggung internasional hingga mampu melahirkan the absolute winner, juara dunia, dalam olimpiade fisika 2006 di Singapura. Yang menarik, buku ini bukan hanya berisi kisah mengharukan dan membahana semata, tetapi memberikan landasan teori yang terasa segar. Ilmu fisika memang sarat dengan dasar-dasar yang mampu membuat kita mabuk kepayang karena begitu indahnya jika dihubungkan dengan kenyataan hidup yang kita alami. Terutama jika kita mengaitkannya dengan self motivation. Ambil contoh fisika kuantum yang sangat terkenal dan memabukkan. Buku the Secret yang melegenda juga berpijak pada landasan yang kurang lebih sama. Mestakung atau alam semesta mendukung didasarkan pada teori bahwa segala sesuatu yang berada dalam sebuah titik kritis, pada titik tertentu akan menggerakkan alam semesta untuk mendukungnya, agar kembali memperoleh keseimbangan. Yohanes Surya memberikan contoh air yang dipanaskan umumnya akan mendidih dan secara perlahan, perlahan-lahan akan menguap, karena intervensi panas dari luar. Namun pada titik tertentu, yaitu panas yang mencapai.....derajat celsius, seluruh molekul dalam air itu secara bersama-sama, tanpa diintervensi lagi oleh panas dari luar, menjadi uap. Yohanes mencontohkan, tim fisika pertama Indonesia berada dalam titik kritis yang diciptakannya sendiri, yaitu berani mengundang 3 siswa terbaik Indonesia ke Amerika Serikat untuk dilatih padahal belum tentu mereka diundang dalam olimpiade fisika tersebut! Posisi kritis yang terjadi justru menggerakkan alam semesta untuk mendukung diundangnya tim Indonesia. Buku yang sangat menarik karena memberikan kita inspirasi yang sangat kaya dengan teori fisika tak terbantahkan, bahwa jika kita menciptakan situasi kritis, kita akan didukung sepenuhnya oleh alam semesta. Prof... Dr. peraih nobel fisika dari Jepang menceritakan bahwa di sekolah menengah dia dikatakan bodoh dalam hal fisika oleh gurunya. Justru ini memacunya untuk mendaftar di University of Tokyo jurusan Fisika. Ketika dia ingin melanjutkan ke Princeton University di Amerika, dosennya memberikan referensi yang sangat ’indah’: ”His results are not good, but he is not that stupid.” Dia membuat dirinya pada titik kritis karena disangsikan demikian banyak orang. Buku yang amat menarik, seukuran saku, yang bisa anda habiskan hanya dalam sejam tapi mungkin mengubah cara pandang anda selamanya. |

