The Selling Secret (1)
Judul kali ini akan merupakan serial yang saya siapkan. Rahasia menjual yang akan mengubah hidup anda selamanya, yang akan memperkaya kehidupan anda, tidak hanya
secara materi tapi juga emosi. Kebetulan beberapa kelas Access One dalam satu bulan ini sangat memperkaya kami sebagai fasilitator dan menemukan banyak sekali ide-ide
yang selama ini disimpan masing-masing orang.

Hal menarik lain yang juga kebetulan adalah kami memperoleh pinjaman sebuah buku dan film berjudul The Secret yang dikarang oleh Rhonda Byrne sewaktu diundang dalam
kelas accelerating sales di Bandung belum lama ini. Rhonda merangkum pendapat beberapa pakar, di antaranya pakar Quantum Physics tentang sebuah hukum yang bernama
the law of attraction.  Menurut hukum ini, seluruh universe termasuk kita dipengaruhi oleh ‘ketertarikan’, seperti magnet. Everything is created twice, pertama di pikiran kita dan
kemudian menjadi nyata. Jadi apapun yang kita pikirkan akan ‘menarik’ universe untuk mewujudkannya. Semakin kuat kita pikirkan, semakin kuat pula kemungkinannya terwujud.
Rhonda memberikan beberapa contoh, tapi salah satunya pernah di alami oleh teman saya. Teman saya ini membaca sebuah buku di airport dan sangat tertarik dengan buku itu,
tapi tidak membelinya. Tidak berapa lama, buku itu dihadiahkan oleh seseorang padanya. Menakjubkan?

The Selling Secret pertama yang akan saya presentasikan untuk anda adalah DECISION. Ya, keputusan. Segala sesuatu yang anda pikirkan, yang anda inginkan akan tetap
menjadi hanya sekadar keinginan dan pikiran belaka. Banyak yang mengatakan pada saya, betapa inginnya mereka memiliki sebuah rumah. Mereka sering berpikir untuk tidak lagi
mengontrak dan betapa indahnya punya rumah sendiri. Dalam sebuah kelas, salah seorang peserta mengatakan pada kami, dia sangat ingin mencapai target yang diberikan, tapi
tidak mungkin tercapai karena sudah merupakan hari terakhir di bulan itu. Kita seringkali berpikir untuk meraih sesuatu dan sangat menginginkannya, tapi lupa satu hal: kita belum
memutuskannya! Jika anda bilang tidak mungkin, sudah jelas anda sudah memutuskan tidak akan mendapatkannya. Jika anda bilang ragu-ragu, ya.....anda juga akan bimbang
melangkah atau tidak. Jika anda sangat mantap dengan sesuatu, anda tinggal melakukan hal terakhir: keputusan!

Apa hubungannya dengan rahasia menjual? Sederhana saja, apakah anda akan mencapai target bulan ini atau tidak anda yang memutuskannya! Anda bilang ragu, sudah jelas
anda memutuskan apa, yaitu tidak akan mencapainya. Jika anda menghadapi seorang prospek, keputusan juga ada di tangan anda. Kenapa? Karena jika anda sudah
memutuskan, maka anda akan melakukan segala upaya untuk memastikan anda berhasil dengan prospek ini. Tidak akan ada kata gagal. Apa yang ada dalam pikiran anda, yaitu
keputusan tadi akan mengalir keluar dalam bentuk ucapan-ucapan anda, sorot mata anda, bahkan dalam jabat tangan anda. Dan hal ini akan mampu dilihat oleh sang prospek
dengan mudah: anda sangat yakin dengan produk anda dan sangat percaya diri bahwa produk anda adalah solusi paling tepat untuk si prospek. Tidak akan ada keraguan
sedikitpun! Karena anda sudah memutuskannya!

Sulitkah membuat sebuah keputusan? Seringkali tergantung pada situasi sales yang anda hadapi. Semakin sulit sebuah situasi sales biasanya
fear factor yang keluar: ”Aduh,
sepertinya account ini sulit, mintanya macam-macam yang belum tentu bisa dipenuhi dan orangnya juga sulit diajak ngobrol.” Maka  umumnya keputusan yang anda ambil adalah:”
Yahh, kita coba saja deh, berhasil OK, nggak berhasil juga tak apa-apa.” Kisah selanjutnya anda sudah bisa menebak, anda tidak akan memperoleh account itu karena anda
sudah memutuskannya untuk ragu-ragu.
The Selling Secret (2)
Mengirimkan Emosi Nyaman
Pernahkah anda melihat dan merasakan teman anda datang ke kantor dalam kondisi sangat cerah suatu pagi?  Dia tersenyum pada semua orang, dan menyapa hangat teman-
temannya. Jika anda termasuk salah satu yang disapa, apa yang anda rasakan? Terlepas dari kondisi
mood anda, umumnya anda juga akan merasakan kehangatan yang sama.
Anda mungkin akan ikut tersenyum dan merasakan suasana cerah juga.

Apa yang kira-kira membuat anda ikut tersenyum dan merasakan kehangatan teman anda? Ya, karena teman anda lah yang memberikan kehangatan itu dan anda menerimanya.
Demikian juga jika bos anda marah-marah, sering kali anda ikut merasa tidak nyaman. Reaksi kita sering kali sangat ditentukan oleh emosi orang-orang di sekitar kita. Hanya
sedikit orang yang mampu mengontrol reaksinya tidak dipengaruhi oleh orang lain. Artinya, pelanggan atau prospek anda sebagian besar akan juga bereaksi terhadap emosi
anda!

Mari kita lihat dari sisi yang berbeda sekarang, yaitu teman anda yang cerah ceria dan menyapa semua orang dengan hangat. Apa yang terjadi dengan teman anda? Kemungkinan
besar teman anda akan mengatakan bahwa dia sangat berbahagia karena satu dan lain hal, dan menceritakan hal-hal itu dengan mata berbinar-binar. Artinya ada stimulus, ada
rangsangan yang membuat teman anda cerah ceria yang mampu mempengaruhi anda untuk ikut bersikap hangat juga. Stimulus ini kemudian menjadi kunci, karena akan
berpengaruh besar terhadap emosi yang dipancarkan oleh teman anda.

Bisakah anda mengontrol stimulus yang masuk dan mempengaruhi
mood anda? Berbagai teori mengatakan sangat bisa. Pengalaman saya juga bilang iya. Budaya kita
memberikan banyak contoh, seperti ungkapan ”untung” di beberapa daerah jika mengalami sesuatu hal yang tidak menyenangkan. ”Meskipun kita tidak bisa berangkat jam 6 pagi,
untung kita masih bisa ikut yang jam 8.” Kita melakukan sensor terhadap stimulus yang masuk dengan melihat sisi berbeda yaitu ”untung”, bukan memfokuskan diri pada hal tidak
menyenangkan yang kita terima.

Dalam sessi training selama 2 bulan terakhir saya mulai memperkenalkan efek emosi sewaktu bertemu dengan prospek atau pelanggan. Caranya sangat mudah, sewaktu anda
memasuki gedung atau tempat pertemuan, jalanlah perlahan-lahan dan nikmati tempat itu. Rasakan hanya kenyamanan dan kehebatan gedung atau pelanggan anda. Apakah
gedungnya yang megah, interiornya yang mewah, pelayanannya yang ramah atau nama besar dari perusahaan yang akan anda temui. Tarik nafas panjang 2-3 kali sambil
mengucapkan syukur, betapa berbahagianya anda bisa berada di tempat itu, menjumpai orang penting dan perusahaan sebesar ini dan tersenyumlah sesudahnya.  Penuhi
rongga dada anda dengan kebahagiaan dan kenyamanan, fokus pada
the best things yang anda jumpai di sana dan mengenyampingkan hal-hal yang mungkin membuat anda
tidak nyaman.

Hal yang kedua anda lakukan adalah mengucapkan dalam hati, betapa berbahagianya anda bisa datang untuk membantu Bapak X atau Ibu Y yang akan anda temui persis seperti
anda akan bertemu dengan teman atau keluarga yang  sedang membutuhkan pertolongan. Pikiran anda yang sangat tegas dalam urusan membantu ini akan mampu berdamai
dengan perasaan anda untuk juga mengatakan kalimat yang sama: ”Saya datang untuk membantu, hanya membantu.” Jika anda mampu melakukan hal ini, menyamakan kalimat
yang diucapkan pikiran dan perasaan anda, anda persis seperti kisah teman anda yang datang ke kantor dengan tersenyum hangat dan cerah ceria.

Banyak yang bertanya pada saya, kenapa harus membantu? Bukankah kita bertugas menjual produk kita? Saya akan bahas lebih panjang lebar dalam edisi berikut. Tapi
sebelumnya saya akan bertanya pada anda, apa bedanya teman atau keluarga anda yang butuh pertolongan dengan prospek atau pelanggan anda yang bersedia bertemu
dengan anda? Mereka sama-sama membutuhkan pertolongan, meski dalam tingkatan yang berbeda. Esensinya untuk anda tetap sama,
anda datang untuk membantu

Ingin melanjutkan?
copyrights 2017 Access One Indonesia
created by Lelo Digitals