Sepenggal Gathuk yang Indah
Bagaimana memperoleh buku Gathuk ?
Klik di sini....
dengan runut dan nada tegas.  Saya sedang mewawancarai  calon untuk posisi project head, yang akan menangani semua urusan proyek divisi saya dengan seluruh komponen
back office. Perempuan ini memiliki pengalaman yang komprehensif, dan belum menikah. Memperhatikan perempuan ini berbicara dengan intonasi yang paradoks: lembut tapi
sekaligus galak mencari celah mematikan, saya tersenyum dalam hati, mungkin kegalakannya membuat semua lelaki mundur teratur.

Sebagai division head yang bertanggung jawab terhadap inisiatif produk dan pemasaran di sebuah bank swasta nasional di Indonesia, selama  kurun waktu itu saya kesulitan
dalam mensinkronkan proyek-proyek di divisi saya dengan segala macam urusan teknis. Mayoritas proyek divisi saya harus berhadapan dengan  prosedur yang harus disusun,
adjustment legal, modifikasi  perangkat lunak dan mengusahakan terhubung rapi  dengan pihak ketiga melalui interface yang akurat.  Selalu saya sulit berbicara dengan
teman-teman saya di back office kalau sudah masuk masalah teknis.  

Tapi perempuan di depan saya ini memiliki latar belakang teknis dan segala macam prosedur yang ruwet dan terutama menguasai soal interface dan kerumitan sofware yang
harus dijalankan.Saya tersenyum bahagia. Masalah saya sudah beres dengan adanya perempuan ini. Tapi perempuan  ini masih dengan detil membicarakan pengalamannya.
Lugas dan jelas, khas anak teknik.

Saat itulah masuk beberapa teman kantor saya. Mereka rupanya hendak makan siang di sini. Sebentar lagi tempat ini akan ramai. Sejurus kemudian, seorang lelaki lain masuk.
Yang ini teman akrab saya, seorang division head yang bertugas di bidang network coverage. Kami sering terlibat proyek yang mengharuskan ke luar kota dengan intens,
menghabiskan obrolan malam-malam karena jika ke luar kota harus menginap room sharing di hotel.  Saat itulah dalam hitungan sepersekian detik saya melambaikan tangan ke
teman saya itu. Saya memaksa mereka berkenalan, meskipun tidak lah lazim memperkenalkan seorang calon pegawai  yang sedang di-interview kepada teman. Tapi mungkin
karena cukup lama kami berteman, saya  lumayan hapal abcd yang dimilikinya. Teman saya ini cukup lama membujang kembali setelah  bercerai dengan istrinya. Tapi hidupnya
cenderung ringan tanpa beban berat, tidak ada target yang mampu mengubah ritme kerjanya. Wajahnya kalem, tenang, dan cenderung lugu. Saya sering mencandainya, dan
sering juga kelewatan, tapi dia tak pernah marah. Paling banter dia akan berkata: enggak usahlah sampai segitunya.

Selesai mereka bertukar senyum, saya melanjutkan babak wawancara saya, teman saya pun makan siang. Saat itulah saya ingin sekali menulis sms kepada teman saya.
Mungkin ada faktor iseng juga. Saya minta ijin ke calon project head saya bahwa ada hal penting yang harus saya sms.  Saya tulis dalam bahasa Inggris: I think I have just
introduced your wife to be. Kemudian saya menatap perempuan manis  tetapi galak di depan saya. Memastikan keisengan saya benar.   Sejam kemudian, saya mencari teman
saya itu di mejanya. Dengan menggebu-gebu saya memastikan dia menerima sms saya. Lelaki dengan perawakan cenderung kerempeng  ini hanya tersenyum tenang.  
Ketenangan yang sempurna. Senyum tipisnya mendengarkan berondongan kalimat saya bahwa Tuhan mengirimkan saya untuk memberitahu soulmate-nya sudah hadir.
Sesudah lelah menguliahinya, saya kemudian beranjak meninggalkannya dan memulai proses ke human resources untuk merekrut perempuan tadi.

Sebuah cerita indah, karena kini mereka telah memiliki seorang anak perempuan cantik dan menggemaskan yang duduk di kelas satu sebuah sekolah dasar. Mereka juga
pasangan yang sempurna dari kacamata saya: berselisih usia sekitar sepuluh tahun namun mampu mengawinkan kecerewetan dan kegalakan dengan kelembutan yang
dewasa. Dua hari yang lalu, saya menelepon mereka satu per satu. Saya ingin tahu, apa yang terjadi pada saat momen perkenalan itu. Saya memulai dengan menelepon teman
saya terlebih dahulu. Pertanyaan saya adalah: pada saat pertama kali saya perkenalkan, apa yang dirasakan? Teman saya rupanya tidak menyangka saya bertanya seperti itu.
Saya hitung dia terdiam 3-4 detik. Lantas mulai menjawab: yaaaah, apa ya...something ....lah. Apalagi elo kemudian dengan hiperbola lo, ngomongin soal soulmate. Gw sangat
ingat momen itu. Terlepas lo itu iseng, tapi gw ingat persis saat itu. Lantas saya menelepon istrinya langsung sesudah saya menutup teleponnya. Mereka kini bekerja di dua bank
yang berbeda. Setelah berbasa-basi, saya menanyakan pertanyaan yang sama. Sang istri lebih lama lagi terdiam.  Sekitar 5-6 detik setelah mendengarkan pertanyaan saya baru
dia bereaksi:  kenapa lo nanya ini? Lo merusak konsentrasi gua. Karena saya cukup mafhum dengan tabiatnya, saya desak dia terus. Dia menjawab dengan emosi yang saya
bisa rasakan di ujung telepon:  Hal ini yang membuat gua sampai sekarang begitu mencintai dia. Dalam situasi marah, kesal, sayang, peristiwa itu selalu muncul. Gua merasa
peristiwa itu dimunculkan oleh Tuhan. Put, pertama kali gua salaman, gua suka tapi memungkirinya.  Baru setelah kita nonton Brokeback Mountain, gua tahu gua akan melahirkan
anak dari lelaki ini.

Saya kebetulan berada dalam pusaran peristiwa itu. Apakah saya tahu apa yang saya lakukan saat itu? Sejujurnya tidak. Saya hanya ingin melakukannya. Ditambah dengan tabiat
saya yang memang suka iseng dan cenderung spontan dalam segala hal, maka jadilah momen itu. Dan saya membayangkan, kalaupun tidak ada faktor saya di situ, mereka akan
tetap bertemu juga, mengalami cross-path, bertemu di sebuah persimpangan waktu dan tempat, persimpangan 4 dimensi.  Buat saya, mereka memang ditakdirkan menjadi
soulmate. Pagi saya mengetik bagian ini, adalah ulang tahun perkawinan mereka. 9 September.
copyrights 2016 Access One Indonesia
created by Lelo Digitals